Sunday, 11 November 2018

Izinkanlah Aku Mencintaimu Seperti Rahwana Mencintai Shinta



Rama adalah pahlawan. Rahwana adalah penjahat. Pemahaman ini sudah meluas di masyarakat, tapi ternyata ada sisi lain dibalik itu semua. Dalam sebuah cerita pasti ada sisi hitam dan putih.

Di sisi putih terdapat Sang Ramacandra yang digambarkan sebagai sosok sempurna tanpa kekurangan. Wajah tampan rupawan, bijaksana, lembut, dan lain sebagainya. Sosok Rama terlalu sempurna untuk di deskripsikan.

Sedang di sisi hitam, terdapat Rahwana, Raja Alengka yang diceritakan sebagai pemantik kerusuhan dalam cerita ini. Digambarkan sebagai sosok raksasa dasamuka, yang dipersalahkan sebagai penculik Dewi Shinta. Kejam, troublemaker, dan keburukan keburukan lain terletak pada dirinya. Kebalikan dari Sang Rama Wijaya.


SISI RAMACANDRA

Dibalik kesempurnaan Sang Rama, banyak hal yang ternyata berkebalikan. Mengapa seperti itu? Sang Ramawijaya yang "katanya" pangeran sempurna itu tak diberi bantuan sedikitpun oleh kerajaannya untuk menjemput kembali sang dewi. Malah hanya dibantu oleh pasukan kera pimpinannya Hanoman.

Itu pun didapat karena ia membantu Sugriwa dan Hanoman menggulingkan Subali yang notabene penguasa Kerajaan Kiskenda. Yang dilakukan dengan cara membokongnya lewat belakang. Ini tentu bukan tindakan seorang ksatria. Lalu bagaimana mungkin bisa disebut benar menggulingkan pemerintahan yang sah?

Selain itu, ada kekecewaan yang dirasakan Shinta karena yang menjemputnya bukan sang pujaan hati. Sang Rama hanya mengutus Hanoman. Sehingga sang Shinta enggan untuk ikut, kalau Rama tak congkak untuk turun langsung menjemput, tentu peperangan bisa dicegah.

Yang paling aneh ketika sang dewi telah kembali dipelukannya. Sang Ramawijaya terhasut omongan rakyat sehingga tak mempercayai kesucian Shinta karena telah bertahun-tahun di istana Rahwana. Meskipun berkali kali Dewi Shinta mengatakan bahwa selama di Kerajaan Alengka dia tidak pernah disentuh oleh Rahwana, Sang Rama tetap tidak percaya. Untuk membuktikannya, sang dewi akhirnya terjun ke dalam bara api. Lebih aneh lagi ketika sang dewi selamat dan tak tersentuh api sedikitpun yang mengisyaratkan bahwa ia memang setia menjaga kesucian dari Rahwana, malah Ramawijaya tetap mengusirnya. Apakah ini yang digambarkan sebagai cinta sejati?


SISI RAHWANA

Prabu Rahwana, jika dibandingkan dengan Sang Rama dari segi apapun, memang kelihatannya tidak sebanding. Rahwana selalu lebih buruk, bahkan seolah olah Rahwana adalah kebalikan sifat Sang Rama. Namun dibalik sisi seram yang tertampil darinya ternyata ia merupakan raja yang luarbiasa. Digambarkan bahwa kerajaan Alengka begitu sejahtera serta aman dari gangguan.

Ini berarti, berlawanan dengan penggambaran sebelumnya yang mengatakan bahwa ia kejam, sumber kekacauan. Seluruh rakyatnya rela memberikan jiwa raga saat pasukan kera yang dipimpin Hanoman menyerang Alengka. Sekali lagi kita disajikan hal yang aneh, penggambaran awal tentang raja yang kejam menjadi tersapu. Bagaimana bisa raja yang kejam dibela mati-matian oleh rakyatnya?

Selain itu Rahwana ini memiliki pengetahuan dan kesaktian yang luarbiasa tinggi. Dia melalui tapa yang begitu panjang demi mendapatkan banyak kesaktian dan pengetahuan. Sehingga melewatkan sayembara mendapatkan Shinta saat dia masih bertapa. Kalau tidak, bukan tiak mungkin Rama dikalahkannya.

Tergambar juga bagaimana kebaikan Rahwana setelah Shinta diculik dan dibawa ke Kerajaan Alengka. Selama bertahun tahun disekap, Sinta diperlakukan bak ratu oleh Rahwana. Meski dia bisa memaksa atau bahkan memperkosa Shinta, Rahwana tak pernah mau melakukannya.

Rahwana tahu, cinta sejati tak butuh dipaksa. Dia tak pernah menyentuhnya, dia menunggu.
Menunggu adalah hal terbaik agar sang dewi tak terluka hatinya. Agar sang dewi mencintainya sepenuh hati. Suatu saat nanti. Walaupun itu entah kapan.

Setiap hari Rahwana mendatangi Shinta dengan beragam puisi. Dia selalu minta maaf karena telah menculiknya. Semua itu dilakukan agar Shinta bersedia menjadi permaisuri, satu-satunya istri terkasih. Meskipun Shinta selalu menolak.


AKHIR KISAH

Apa yang datang dari hati, pasti sampai ke hati. Sekejam apa pun Rahwana, ketulusannya pelan-pelan dirasakan oleh Shinta.

Selama dirinya di Alengka, Rahwana berubah menjadi baik dan murah senyum sehingga mengubah suasana kerajaan menjadi baik pula dan penuh kedamaian. Shinta mulai tergoda tapi di sisi lain dia tak mau mengkhianati suaminya.

Namun, sekian tahun lamanya, kenapa Rama tak kunjung juga menyelamatkannya? Apakah suaminya sudah tak mencintainya lagi?

Dalam diam Rahwana dan Shinta saling bicara,
"Tidakkah kau juga mencintaiku Sinta? Tidakkah kau mengingatku walau sedikit saja, sebagai pria yang pernah kau cintai sampai mati." tanya Rahwana
"Aku sebenarnya juga mencintaimu. Namun aku terikat dengan Rama. Jika kamu mencintaiku, tolong relakanlah aku dan kembalikanlah aku." balas Shinta

Kata-kata Shinta ibarat mantra yang menyihir Rahwana. Sebab, selama hidupnya, hanya kata-kata itulah yang dinanti.

Akhirnya Rahwana memutuskan berduel dengan Rama. Apabila ia kalah, maka dikembalikanlah Dewi Shinta ke pelukan Sang Rama.

Ketika Rama datang dengan Balatentara Wanara dan Hanoman, dengan gagah berani Rahwana menyambutnya.

“Aku mencintai Shinta, Rama! Aku akan melakukan apa pun untuknya. Aku benar-benar mencintainya, bukan sepertimu yang menikahinya hanya karena berhasil memenangkan sayembara. Semua perbuatanku yang kau sebut ‘mengacau’ sebenarnya adalah usahaku dalam rangka mendapatkan cintaku kembali"

Pertarungan pun terjadilah.
Dengan dibantu Hanoman, Rama berhasil mengalahkan Rahwana dan membunuhnya. Shinta pun kembali jadi miliknya.

Dia lari menghambur ke pelukan Rama. Namun, sambutan Rama justru tak dia duga. Rama termakan omongan rakyat, jangan-jangan Sinta telah dinodai Rahwana. Berkali-kali Sinta menjelaskan bahwa dirinya masih suci. Rahwana tidak sekali pun pernah menyentuhnya. Tapi Rama tak juga percaya. Hingga akhirnya, Sinta nekat membuktikan kesuciannya dengan menceburkan diri ke bara api.

Karena dia masih suci, api tak bisa membunuhnya. Meskipun seperti itu, tetap saja Rama mengusir Shinta yang nantinya akan sampai di Pertapaan Walmiki.

Tinggal kemudian sukma Rahwana yang menangis sejadinya karena nestapa cinta. Kenapa takdir tidak memilihnya? Andai dia ikut sayembara pastilah Shinta menjadi miliknya, Kenapa pula Sinta memilih pria yang tidak mempercayainya 100 persen? Sementara bagi Rahwana, Shinta ternoda atau tidak, cantik atau tidak dia tetap akan mencintainya.

Disudut lain yang tak terlihat, Shinta tersedu pilu karena Rahwana sudah tak ada lagi di dunia yang ditempatinya, tak menghirup lagi udara yg dihirupnya.

~~~~~

"Tuhan, bila cintaku pada Shinta terlarang, mengapa kau bangun megah perasaan ini dalam sukmaku?" Rahwana.

Sepertinya kita sendiri harus memikirkan kembali mana yang hitam dan yang putih. Serta mengingat bahwa sejatinya tidak ada yang benar benar putih maupun benar benar hitam. Karena apa yang kita lihat belum tentu itulah yang sebenarnya terjadi.

Izinkanlah aku mencintaimu seperti Rahwana mencintai Shinta, meskipun ia harus mati ditangan Rama, tapi ia mati dalam keadaan memperjuangkan cintanya.

Wednesday, 14 February 2018

Menulis Kembali

Awal tahun 2018, banyak perubahan yang terjadi dalam hidupku. Alhamdulillah semuanya positif. Kedepannya semoga terus ada kemajuan buat diriku sendiri.

Beberapa hari belakangan, aku mencoba menulis diary di sebuah buku. Untuk menemukan gaya menulisku sendiri. Tidak melulu mengikuti gaya tulisan blogger blogger terkenal.

Hari ini aku akhirnya posting lagi di blog ini setelah sekian lama. Beberapa hari yang lalu aku ketemu sama pembaca setia blogku dan dia protes kenapa aku ngga pernah posting lagi. Maaf ya, hehe.

2018 mengejutkan. Dari mulai halaman rumah yang jadi lebih luas, diterima di unit jurnalistik DKC Banyumas, sampe ditinggal sama pacar pun aku alami di tahun ini. Luar biasa, aku mendapat perubahan tidak terduga.

Pengalaman pengalaman yang sudah lalu, satu persatu akan aku ceritakan di blog ini. Tujuan mempublikasikan pengalamanku di blog ini sebenarnya simpel. Hanya agar kenangan kenanganku abadi dan menjadi inspirasi serta pembelajaran buat generasiku dan generasi generasi berikutnya. Hehe..

Thursday, 30 November 2017

04:28:00 - No comments

Random di Akhir November

  Haha, kampret! Selese UAS bukannya gue seneng seneng, malah ditagih tugas. Ini masih H+1 selesai UAS, mungkin H+ H+ berikutnya bakal ditagih remidian! Semoga aja ngga deh, aamiin.

  Tadi siang sebenernya udah niat ngerjain tugas, tapi gue malah ketiduran sampe jam 10 malem. Dengan semangat, terpaksa gue nyalain komputer tengah malem cuma buat ngerjain tugas OR. Sebenernya sih males banget, tapi demi nilai rapor apapun bakal gue lakuin. Haha.

  Tugas ini dibebankan ke gue soalnya gue 2 kali ga ikut penilaian OR, dan sebagai gantinya gue harus ngerjain tugas yaitu ngetik artikel tentang penilaian yang ngga gue ikutin (copas sih, hehe). Dan sekarang (03.50 Pagi) baru selesai 1 materi, bola voli. Masih kurang 1 lagi yaitu pencak silat (masih sempet sempetnya ngeblog).

  Oh iya, postingan ini adalah postingan terakhir gue di bulan November. Kemungkinan bulan Desember sampe Januari postingan gue bakal lebih banyak soalnya banyak waktu luang. Ngga kerasa ternyata 2017 udah mau selesai aja.

  2016-2017 sejauh ini adalah tahun yang paling mengesankan buat gue, dari mulai gue mengenal arti persahabatan, peningkatan kecerdasan otak sementara (karena menjelang UN, haha), Kekeluargaan di sekolah, UN, lulus SMP, masuk SMA, pindah SMA, dll. itu semua berkisar diantara tahun 2016-2017.

  Oh iya, beberapa hari yang lalu ada kejadian konyol. Gue sama temen kekunci di perpustakaan sekolah waktu pulang sekolah. Rasanya malu banget sih, untung sekolahan udah ngga terlalu rame. Semenjak itu gue trauma ke perpustakaan pas jam pulang sekolah.

  Selain itu, gue juga agak khawatir sama nasib gue di sekolah. Biasanya dalam seminggu, gue gak berangkat sehari soalnya sakit. Entah kenapa gue jadi sering sakit dan ngga bersemangat sekolah. Apa mungkin gara gara ngga ada doi yah? Hehe...

  Dan buat nutup artikel random ini, gue pengen ngucapin selamat liburan akhir tahun buat temen temen gue yang mampir dan baca postingan ini. Semoga liburannya menyenangkan yaa! ^_^

Aja Ngelomboni Wong Tua (Cerkak Basa Jawa)


Jumat kie langite esih keton peteng, hawane adhem kaya arep udan. Adi wis melek, nanging esih bebeh menyat sekang kasur amarga hawane esih enak nggo turu. Adi pancen bocah males, dadine dina kue Adi sambat mriyang meng biyunge men ulih ora mangkat sekolah.
“Bu, kula kadose gerah koh. Niki sirah kula ‘senud-senud’ lara banget, kulo mboten mangkat sekolah nggih,” ngendikane Adi.
Banjur ibune Adi nyekel siraeh Adi. Jane ora panas, tapi mergane melas sidane Adi diulihna ora mangkat nang ibune.
“Yawis dina kie koe ora usah mangkat bae, mbok tambah mumet nang sekolahan. Dinggo istirahat bae ya!” ibune Adi ngabulna kekarepanne Adi.
“Yes bisa turu gutul awan karo nonton tivi semareme,” batinne Adi.
Bapak ibune Adi gaweanne dadi PNS, jam tengah pitu esuk mesti mangkat meng kantor. Dadine Adi ditinggal dewek nang umah soale keluargane Adi ora ndue pembantu.
“Di, bapak mangkat disit ya! Dina kie koe ora tak sanguni soale koe ora mangkat sekolah. Koe istirahat bae nang umah aja dolan dolan, mbok kepethuk kancamu apa gurumu ngko bapak ibu sing isin soale wis ngendika aring wali kelasmu nek koe ora mangkat gara-gara mriyang,” nasihate bapake Adi.
“Nggih pak, ‘uhuk-uhuk’” Adi semaur karo etok-etok watuk men ndarani mriyang temenan.
“Anakku melasi temen kie, apa tak gawa meng dokter bae ya?” batinne bapake Adi.
“Di, apa mengko jam tengah wolu bapak mbalik mening meng umah njujugna kowe aring dokter? Mbok kebanjur mriyang malah ngesuk kowe ora mangkat maning,” ujare bapak.
“Mboten usah pak lah, paling mengkin sonten kulo sampun mantun,” semaure Adi lirih.
“Yawis nek kue kekarepanmu, bapak mangkat disit! Assalamualaikum,” bapake Adi banjur mangkat meng kantor.
“Waalaikumsalam,” Adi semaur karo merem kaya arep turu, padahal rencanane Adi nek bapak ibune wis mangkat. Adi arep langsung nyetel tivi.
Adi keturon seuwise bapak ibune lunga, soale hawane atis banget kepenak nggo turu. Tangi tangi Adi kerasa nek siraeh lara temenan.
“Aduh, sial banget kiye malah mumet temenan sirahku!” Adi nggrundel nang njero batin.
Sing maune arep nonton tivi sidane Adi malah golet golet obat mumet. Ndilalah obate entong, sidane Adi turonan mening nang kasur.
“Astagfirulloh, deneng sirahku tambah muter muter kiye lara banget,” batinne Adi.
Bar kuwe Adi turu mening karo ngenteni wong tuane bali, soale wis ora tahan siraeh mumet banget.
“Assalamualaikum,” ibune Adi bali
“Deneng ora disemauri yah? Apa Adi dolan? Ualah jan bocah” batinne ibune Adi
“Adi, Adi!” ibune Adi bengok bengok mbok menawa bocaeh nang dapur mburi. Adi tetep ora semaur soale esih turu.
Banjur ibune Adi nggoleti Adi nang kamar. Jebule Adi lagi turu karo kekepan guling.
“Astagfirulloh panas banget kie bocah, padahal mau esuk ora,” ibune Adi kaget bar nyekel bathuke Adi
“Di, Adi, tangi nang, ngko sore meng dokter ya,” ibune Adi nggugah Adi men tangi
“Nggih bu,” Adi semaur lirih banget soale awakke esih ora kepenak
Sorene Adi dijujugna berobat nang bapake. Tempat berobate mandan adoh, nang klinik e Dokter Roland. Akhire Adi ulih giliran bar ngantri 30 menit.
“Sugeng sonten, Pak. Niki putrane nggih sing saweg sakit? Sakit nopo?” Dokter Roland takon
“Niki dok, putrane kulo sakit siraeh. Jare mumet sing ‘senud-senud’” semaure bapake Adi
“Ooh kados niku nggih. Ayuh ngeneh mas turon nang meja periksa,” Dokter Roland meriksa Adi.
“Niki putrane njenengan keselen pak. Perlu istirahat. Niki mboten usah ngangge obat tapi kulo weih surat cuti dokter mawon men putrane njengan saged istirahat teng ndalem,” sanjange Dokter Roland
“Oh kados niku nggih. Maturnuwun nggih, Dok. Kulo pamit riyin. Assalamualaikum,” bapake Adi mlaku metu sekang ruangan.
“Nggih sami sami, monggo. Waalaikumsalam,” Dokter Roland semaur.
Wengine Adi esih mumet. Adi ngerasa nek penyakite kie gara gara deweke ngelomboni wong tuwane. Akhire Adi ngaku nek mau esuk kue Adi mriyang digawe gawe.
“Bu, Pak,” Sanjange Adi lirih. Ibu bapake lagi nonton tivi.
“Ana apa, Di?” bapake semaur.
“Wau enjing kulo anu mboten mriyang temenan Pak, Bu. Kulo wau enjing males mangkat sekolah amergi hawane atis, enak ngge sare. Terus bar bapak ibu tindak kan kulo sare, tangi tangi siraeh kulo mumet temenan,” Adi ngomong karo isin isin
“Oalah jebul kaya kue, ya kawus lah mriyang temenan,” jare bapak.
“Hus aja kaya kue Mas,” ibune Adi mangsuli bapake.
“Jebul kaya kue toh, Di. Pantesan mau esuk awakmu ora panas, jebule ora mriyang. Yawis ngesuk mening aja dibaleni, ya!” sanjange ibu.
“Kuwe akibate ngelomboni wong tua, Di. Wong ora mriyang be bisa dadi mriyang temenan. Ngelomboni wong tua kue bisa marekna cilaka, Di! Ngesuk arep dibaleni maning apa ora?” bapake takon meng Adi.
“Mboten, Pak,” semaure Adi lirih.
“Yawis siki koe turu, ngesuk istirahat bae ora usah mangkat sekolah nek ngesuk esih mumet!” prentah bapake Adi.
“Nggih, Pak.” banjur Adi mlaku aring kamare terus langsung turu.
Ngesuke Adi tangi awakke wis seger maning. Adi langsung menyat terus siap siap adus arep mangkat sekolah, wedi mbok kejadian wingi kedaden mening.

“Bener sanjange bapak, nek ngelomboni wong tuwa kue bisa gawe cilaka,” batinne Adi pas lagi adus

Monday, 30 October 2017

Sedina Dadi Peneliti nang Benteng Pendem

Dina sabtu tanggal 26 Agustus 2017 kepungkur, aku karo batir-batirku dineih tugas nang Bu Anis kon nggawe penelitian sejarah. Tempat karo tanggal arep nelitine bebas, asal aja pas wayah bocah sekolah. Sidane aku karo batir-batirku milih Benteng Pendem, alesanne tempate nang pinggir laut lan tiket melbune murah.

Aku, Ezzra, Danin, Irfan, lan Titan mangkat kang SMA Negeri 1 Purwokerto jam 8 esuk numpak travel. Nang ndalan kabeh pada turu, soale AC travel e adem enak nggo turu. Aku karo batir-batirku gutul Benteng Pendem jam 10 esuk.
Ora kesuen, aku karo batir-batirku langsung bae melbu meng benteng. Nang njero benteng, sepine ora patut. Langka banget wong sing pada meng ngeneh. Kayane gara gara tempate wis ora terawat maning. Jane nang ati mandan gela, tapi yawis lah rapapa itung itung lewih ngerti sejarah Benteng Pendem.

Nang benteng aku karo batir-batirku bingung arep kepriwe, akhire Ezzra inisiatif tuku buku sejarah benteng pendem nang bakul sovenir. Untung bae esih ana turahan bukune, nek ora ya mandan angel nggo nyusun penelitian sejarah.

Bar tuku buku, aku kepikiran nganggo jasa pemandu wisata. Akhire aku nembung meng loket mbok ana pemandu wisata Benteng Pendem. Alhamdulillah esih ana pemandu wisatane sekang nelayan sekitar sing ngerti sejarah Benteng Pendem. Sedurung tak iyani, aku takon disit rega jasa pemandu wisatane, jare sing jaga loket ora ana patokan regane sing penting kena nggo tuku udud. Yawis akhire tak iyani, terus nang petugas loket wonge diundangna lewat halo halo utawa speaker.

Pas wonge teka aku mandan ragu karo keilmuanne, soale pasuryanne keton ndesa banget. Bar wonge teka pertamane Titan ngejak salaman, terus liyane pada melu. Danin sing terakhir salaman takon jenenge, jebule jenenge Pak Sofyandi, wonge gagah kulite ireng. Kerjane dadi nelayan nang Laut Nusakambangan.

Seuwise kenalan Pak Sofyandi langsung ngajak dewek muter-muter benteng. Aben ana bangunan bersejarah mesti Pak Sofyandi mandeg mlaku, terus cerita disit tentang bangunan kue. Ora kelalen nang Irfan di rekam nggo lampiran penelitian. Dugaanku babagan keilmuanne Pak Sofyandi jebule salah. Jebule nek Pak Sofyandi ditakoni babagan bangunan lan sejarah Benteng Pendem mesti di jawab.

Nang penelitian kie, sing paling aktif takon kue Ezzra. Liyane mung mantuk-mantuk karo nyateti informasi sing diulihna kang pituture Pak Sofyandi. Kabehan lancar, ora kerasa Benteng Pendem wis diputeri kabeh nang dewek. Akhire Pak Sofyandi pamit. Seurunge lunga, dewek ngejak foto bareng Pak Sofyandi.

Sedurunge metu kang benteng pendem, aku karo batir-batire dolanan bebek air. Aku numpak bareng Titan, Ezzra bareng karo Danin. Irfan ora melu. Sidane aku ngajak Ezzra karo Danin balapan bebek air. Akhire aku menang telak, soale Ezzra karo Danin langka tenagane, kewalikanne aku karo Titan.

Ilmu sing tak ulihna kang penelitian sejarah kie akeh banget, mulai sekang sejarah,konsep nggawene, lan liya liyane.

Benteng Pendem diadegake taun 1879, fungsine nggo pertahanan Belanda jaman ndisit. Bentenge bener bener kependem, nganti siki bae sing dinggo objek wisata kue mung 40% sekang keseluruhan benteng. 60% esih kependem nang njero lemah.

Konsep Benteng Pendem menurutku menarik, yakue lawang lawang benteng digawe mungkuri laut, dadine nek ana musuh sekang laut kue ora ngerti nek nang kono ana markas Belanda, dikirane mung bukit biasa.

Pembangunan benteng e kue bertahap. Ana sing dadi taun 1886, 1890, lan taun taun liyane. Nang kana ana asrama militer, klinik, penjara, ruang meriam, lan ruang liya-liyane.

Seuwise sekang Benteng Pendem, aku karo batir-batire ora langsung bali tapi maring laut disit. Soale travel sing arep dinggo nang dewek teka jam 5 sore. Metu kang Benteng Pendem esih jam 1 awan.

Nang laut aku karo batir-batirku tuku es degan isit. Danin ngasi nambah mening degan e. Awan awan ngumbe degan kue seger banget.

Bar ngumbe degan, aku karo batir-batirku ngenteni hawane adem. Soale jam 1 esih panase pol kaya dijemur. Sidane dewek njagong njagong disit nang bakul degan gutul jam 3 sore.

Jam 3 sore srengengene wis ora patia panas, sidane aku ngejak batir-batirku dolanan nang laut. Titan senenge motret motret, Ezzra karo Danin dolanan pasir, aku karo Irfan nulis nulis nang pasir.

Ora kerasa wis jam 5 sore, travel e wis teka. Sidane dewek numpak travel gutul Purwokerto. Nang travel kabeh pada turu soale keselen. Tangi tangi digugah supire jare wis gutul tujuan.
Dina kue atiku bungah banget, bisa dolan karo batir batire. Gutul Purwokerto wis wengi, sidane pada nginep nang kos kosanku, ngesuke pada bali kabeh. Aku ya bali meng Sumpiuh nggo tamba kangen aring wong tuwa.

Wis penelitian, gari gawe laporan. Ndilalah sedurung nggawe laporan aku pindah sekolah aring SMA Negeri 1 Banyumas. Dadine aku ora melu gawe laporan penelitian. Nang njero ati aku ya sedih, tapi wong aku dewek sing njaluk pindah men edek karo wong tuwa.

Intine aku seneng banget pernah sekolah nang SMA Negeri 1 Purwokerto, akeh pengalaman sing tak ulihna nang kana. Aku ya seneng banget due batir Danin, Ezzra, Irfan, lan Titan. Semoga batir batirku ora pada kelalen aring aku.